Block
Enter Block content here...
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Etiam pharetra, tellus sit amet congue vulputate, nisi erat iaculis nibh, vitae feugiat sapien ante eget mauris.
New Block
Kamis, 19 Juni 2014
Oleh
: Jumardi S. Ud.
(Guru
Pondok Pesantren YASIN Tembilahan)
Setiap siswa memiliki ciri
perkembangannya yang khas dalam belajar pada tiap masa kehidupannya. Setiap
masa perkembangannya tersebut memiliki cara berbeda dalam menerima pelajaran.
Untuk membantu siswa pada masa-masa perkembangan yang berbeda tersebut seorang
guru harus memahami apa yang dibutuhkan siswa sesuai dengan masa
pertumbuhannya.
Berikut beberapa hal yang dapat
dilakukan guru agar siswa dapat menguasai keterampilan belajar secara lebih
optimal. Pada saat yang sama, guru pun dapat mengurangi kesalahan-kesalahan
yang sering terjadi. Hal ini sering terjadi, karena kurangnya pemahaman guru
tanpa disadari justru menghambat tumbuhnya keterampilan belajar pada siswa.
Masa Prasekolah
Pada masa
prasekolah, menurut Ev. Anne Kartawijaya, M.Div dalam Eunike, yang paling
penting bagi seorang anak didik adalah belajar mengenai bagaimana cara belajar,
bukan sekadar belajar isi materi pelajaran. Untuk itu, guru dapat membantu
melatih anak dengan beberapa cara, antara lain;
Melatih anak
memulai dan menyelesaikan pekerjaan. Hal ini biarkan anak memilih permainan
atau kegiatan tanpa didikte., beri kesempatan kepada anak untuk melakukan
kegiatannya sampai selesai dan membereskan apa yang sudah dia kerjakan.
Usahakan untuk tidak memotong permainan atau
kegiatan anak dengan memberikan usulan lain. Biarkan dia menekuni apa
yang sedang ia mainkan atau lakukan.
Berikutnya
latih anak didik mengerjakan tugasnya sendiri. Hal ini ternyata harus dimulai
sejak anak masih bayi. Ketika dia sudah mulai dapat menikmati mainan-mainan
sederhana di ranjangnya, orangtua yang baru pertama kali punya anak biasanya
akan sangat terdorong untuk selalu menemaninya
bermain. Sesungguhnya anak perlu dilatih untuk mengisi waktunya sendiri
dan bermain sendiri. Kebiasaan untuk selalu menemani bayi bermain dapat
menciptakan kebergantungan pada orang lain. Kebiasaan ini dapat terus melekat
menjadi pola belajar yang juga sangat bergantung pada orang lain.
Selanjutnya
latih anak didik menyukai baca tulis. Hal ini dapat dilakukan dengan membiarkan
anak didik membolak-balik buku-buku atau mencoret-coret kertas.
Sering-seringlah memberi pujian. Kegiatan ini jauh lebih bermanfaat daripada
permainan-permainan elektronik yang tampaknya lebih menarik. Ajaklah anak ke
perpustakaan atau toko buku secara rutin dan biasakan untuk mengalokasikan dana
untuk membeli buku sebanyak dana untuk membeli mainan. Bacakan cerita-cerita
menarik dengan buku di tangan. Sediakan buku-buku menarik sebanyak mungkin
segera setelah anak mulai dapat membaca. Terus kembangkan minat anak untuk
menulis dengan memberi kesempatan melatih kemampuan motoriknya untuk
mencoret-coret atau menyusun abjad-abjad menjadi kata-kata sederhana yang bermakna.
Masa Sekolah Dasar
Masa sekolah
dasar, menurut Ev. Anne Kartawijaya, M.Div dalam Eunike, merupakan masa sangat
penting bagi siswa untuk mengembangkan dasar-dasar pola belajar yang sudah ditanamkan
pada masa prasekolah. Beberapa langkah yang dapat dilakukan guru untuk
membangun keterampilan belajar siswa antara lain:
Mengembangkan
kemampuan baca dan tulis siswa. Hal ini dilakukan dengan terus menciptakan
kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan baca dan tulisnya.
Tingkatkan kebiasaan berkunjung ke perpustakaan. Lebih baik siswa mendapat
nilai PR pas-pasan akan tetapi program ini tetap berlangsung. Jika siswa terus
dipaksa mengerjakan PR dan beban lainnya sehingga tidak sempat membaca dan
menulis hal yang ia sukai, siswa akan kehilangan sukacita belajar yang justru
sangat penting bagi kehidupannya. Dorong semangat siswa menulis dengan cara mengirimkan
tulisan untuk majalah dinding sekolah atau majalah anak-anak, atau memperkenalkan
dengan sahabat pena.
Kemudian
bantu siswa membangun pola belajar mandiri. Hal ini bisa dimulai dengan
menyusun jadwal belajar sendiri. Buatlah suatu papan jadwal dengan kartu-kartu
kegiatan. Pada tahap awal, temani siswa menyusun rencana hariannya sehingga ia
dapat memutuskan sendiri kapan mengerjakan kewajibannya dan kapan dia mempunyai
waktu bersantai atau mengerjakan apa yang ia sukai. Dengan demikian, siswa
tidak merasa didikte. Siswa juga akan belajar untuk mengerjakan apa yang
disukai dan apa yang tidak disukai namun harus dikerjakan. Perlahan-lahan,
latihlah siswa untuk mendahulukan tugas yang sulit sehingga dia tidak perlu cemas
dan tegang pada malam hari karena tugas belum selesai.
Selanjutnya ajarkan
siswa ketekunan dan ketelitian. Karena ada beberapa orangtua mengatakan bahwa
sekolah umumnya hanya memberikan materi pelajaran, tetapi tidak mengajarkan cara
belajar yang baik yang akan menumbuhkan ketekunan dan ketelitian. Maka dari
itu, siswa harus dilatih untuk tekun yaitu dengan memberi kesempatan pada siswa
untuk menyelesaikan sendiri pekerjaan yang mampu dia lakukan.
Perasaan puas
dengan hasil pekerjaan sendiri merupakan suatu perasaan penting bagi siswa untuk
tumbuhnya ketekunan. Akan sulit bagi siswa untuk menumbuhkan ketekunan jika dia
merasa tugas-tugas yang dihadapi terlalu sulit untuk diselesaikan. Sebab itu,
jika PR terlalu banyak atau sulit, guru harus membicarakan hal ini dengan orang
tua murid.
Ketelitian juga
dapat ditumbuhkan dengan cara meminta siswa memeriksa sendiri apa yang sudah dikerjakannya.
Untuk pertama kali, dapat dibuat suatu perjanjian misalnya: "Jika jawaban
soal-soal kali ini dikerjakan tanpa salah, besok Bapak/Ibu guru yang periksa.
Kalau ada kesalahan satu saja, kita periksa bersama-sama. Tetapi jika soal kali
ini ada kesalahan lebih dari satu, besok kamu harus periksa sendiri, baru
setelah itu Bapak/Ibu guru yang periksa." Setelah siswa periksa sendiri
masih ada kesalahan, guru jangan langsung menunjukkan kesalahan, tapi beri
kesempatanan satu kali lagi untuk ia periksa sendiri.
Selanjutnya guru
sebaiknya memberikan fasilitas belajar yang dibutuhkan untuk mengerjakan PR siswa.
Misalnya ketika guru memberikan PR memahami teks cerita anak, siswa mengatakan,
"Pak/Bu, kami tidak mengerti cara mengerjakannya. Kami tidak punya buku
cerita anak di rumah". Mary Leonhardt menganjurkan agar situasi pada saat
itu tidak dipakai untuk mengajar siswa tentang tanggung jawab. Saat itu adalah saatnya
menunjukkan kepada siswa bahwa guru pun melihat pekerjaan rumahnya sangat penting,
seperti yang ia rasakan. Tanpa perlu marah-marah kopilah teks cerita anak
sebanyak siswa yang ada. Tanpa guru perlu katakan dengan nada marah, siswa akan
berkata dalam hatinya: "Lain kali aku akan lebih berusaha menyelesaikan
tugasku, sehingga Bapak/Ibu guru tidak perlu serepot ini." Jika guru tidak
yakin siswa menyadari hal itu, katakan esok harinya: "Bapak/Ibu akan lebih
senang jika kalian memperhatikan tugas lebih awal, sehingga kita dapat
mempersiapkan lebih baik."
Kemudian berikan
hadiah dengan bijaksana. Karena dengan
memberikan hadiah akan mengajarkan siswa suatu nilai. Jika guru memberikan
hadiah pada prestasi siswa, maka dia akan belajar bahwa yang bernilai adalah
prestasi. Tapi jika guru memberikan hadiah pada proses, maka dia akan belajar
bahwa proses lebih bernilai daripada prestasi. Mary Leonhardt menganjurkan agar
guru memberikan hadiah bukan pada prestasi tapi proses. Misalnya dengan
mengatakan, "Kamu boleh minjam buku ini setelah mengulang
pelajaran selama lima belas menit." Pujilah
untuk kemampuan dia bertahan lama dalam belajar lebih daripada ketika dia
berhasil mendapatkan nilai sepuluh dalam ulangan.
Masa Remaja
Pada masa
remaja, ketika siswa masuk ke SMP, cara guru membimbing siswanya akan berubah
180 derajat. Jika pola yang diterapkan pada usia SD tetap diteruskan, hasilnya
justru lebih sering kurang efektif atau bahkan akan gagal total. Untuk itu,
guru perlu sangat hati-hati pada masa remaja ini sehingga dapat terus menjadi
penolong bagi siswanya. Beberapa kiat yang dapat diterapkan pada masa ini
antara lain:
Jangan terlalu
banyak menanyakan tugas siswa. Kalau pada masa SD siswa sangat butuh dikontrol,
ditanya dan dibimbing, pada masa remaja hal ini justru dapat menimbulkan penolakan
yang luar biasa. Siswa yang memasuki masa remaja umumnya merasa sangat risih
jika guru terlalu banyak ikut campur, apalagi sampai menanyakan apa yang
dilakukan siswanya kepada teman-temannya. Pada masa ini guru harus lebih banyak
memberikan kebebasan pada siswa untuk belajar secara mandiri, bahkan untuk
bergumul dengan kegagalan maupun keberhasilan.
Kemudian berikan
bantuan jika diminta dan usahakan bantuan seminimal mungkin. Guru perlu
membantu jika siswa meminta bantuan. Tetapi, prinsipnya, jangan sampai siswa tergantung
kepada guru dalam mengerjakan tugasnya. Berikan bantuan seperlunya saja. Bantuan
tidak harus langsung untuk memecahkan masalah. Kadang-kadang, guru hanya perlu
memberi rangsangan agar dia dapat memecahkan masalahnya sendiri. Berikan
rangsangan supaya bukan selalu guru yang mengajari siswa, tetapi bagaimana siswa
mengajari guru.
Selanjutnya jangan
sepelekan masalah emosi, kesehatan dan status sosial. Hal ini karena menurunnya
prestasi belajar tidak selalu karena kemampuan intelektual yang kurang atau
karena kemalasan. Siswa remaja banyak diganggu oleh masalah emosi dalam
pergaulan, kesehatan atau konflik di antara kelompok mereka. Guru perlu
mendampingi siswa sebagai pendengar yang baik dan mencoba untuk memahami
pergumulan mereka di luar lingkup kegiatan belajar di sekolah. kadang-kadang
tanpa menyinggung masalah nilai prestasi siswa dapat meningkat karena ia merasa
sebagian beban hidupnya sudah dipikul bersama.
Hargai minat
dan bakat siswa. Siswa tidak harus selalu mendapat nilai bagus dalam semua
bidang. Jika siswa lebih berminat pada matematika dan tidak mempunyai bakat dalam
pelajaran bahasa, guru harus memberikan peluang kepada siswa untuk lebih
menekuni matematika dan rela hati menerima nilai bahasa yang tidak setinggi
nilai matematika. Arahkan mereka untuk memilih jurusan yang sesuai dengan bakatnya
dan hargai minatnya itu. Jika siswa memilih jurusan sesuai minatnya,
kemungkinan untuk berprestasi jauh lebih besar dibandingkan jika dia memilih
jurusan yang hanya sekadar memenuhi keinginan hati orangtuanya. Bicarakan ini
dengan kedua orangtuanya. Siswa yang memilih jurusan yang bukan pilihannya sendiri
cenderung bermasalah karena hatinya memberontak dan tidak puas.
Itulah beberapa
hal yang harusnya diketahui oleh guru. Semoga dengan tulisan ini dapat memberi
tambahan bekal dalam mendampingi siswa agar mereka dapat menguasai pelajaran
dengan baik dan bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang mandiri dan berkarakter
kuat.
Langganan:
Posting Komentar
(Atom)

0 komentar:
Posting Komentar